Spekulasi cadangan uranium dan masa depan PLTN

Perkembangan energi nuklir hingga tiga dekade mendatang akan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan uranium alam serta besar kecilnya pertumbuhan kapasitas reaktor-reaktor baru di dunia. Dengan teknologi once-through fuel cycle yang digunakaan reaktor-reaktor nuklir yang ada saat ini, bahan bakar yang berupa uranium hanya dimanfaatkan sekali pakai. Konsumsi uranium yang besar tanpa disertai dengan penemuan deposit-deposit uranium baru akan berakibat pada kelangkaan suplai. Pertanyaan utama saat ini adalah kapan kelangkaan suplai tersebut akan terjadi dan apa pengaruhnya terhadap masa depan energi nuklir.

Lanjutkan membaca ‘Spekulasi cadangan uranium dan masa depan PLTN’

Pembatasan emisi karbon yang salah prioritas

PLTU Suralaya (Sumber: Carbon-Power.de)

Banyak kalangan memandang bahwa pengurangan emisi karbon dari sektor energi adalah respon yang paling tepat sebagai wujud partisipasi Indonesia terhadap isu perubahan lingkungan. Tak kurang para pendukung PLTN pun turut memanfaatkan momentum ini untuk memuluskan proyek pembangunan PLTN. Tidak hanya itu, kampanye bahan bakar nabati akhir-akhir ini pun mendapatkan energi dari isu perubahan lingkungan ini. Tapi benarkah, pengurangan emisi karbon dari sektor energi merupakan solusi yang paling tepat bagi Indonesia?

Lanjutkan membaca ‘Pembatasan emisi karbon yang salah prioritas’

Sisi kelam PLTN di negara berkembang

PLTN (sumber: Departemen Energi AS)Bagi sebagian negara berkembang, teknologi nuklir seolah menjadi hal yang menjanjikan, baik sebagai solusi pemenuhan kebutuhan energi maupun sebagai simbol penguasaan teknologi. Sayangnya, anggapan ini tidak selalu benar. Berikut ini adalah cerita pengalaman beberapa negara berkembang yang susungguhnya dalam membangun PLTN.

Lanjutkan membaca ‘Sisi kelam PLTN di negara berkembang’

Interkoneksi Sumatera-Jawa, investasi strategis yang selalu tertunda

Krisis listrik di Jawa-Bali hingga kini belum kunjung usai. Solusi klasik terhadap masalah ini adalah dengan membangun pembangkit-pembangkit listrik baru. Padahal disamping itu, sesungguhnya pembangunan interkoneksi Sumatera-Jawa juga merupakan sebuah solusi yang strategis. Sayangnya solusi ini cenderung tidak menjadi prioritas. Alasan utamanya apalagi kalau bukan karena mahalnya biaya investasi.

Lanjutkan membaca ‘Interkoneksi Sumatera-Jawa, investasi strategis yang selalu tertunda’

Bahan Bakar Nabati: antara berkah dan bencana

Bahan bakar nabati (BBN), dalam bentuk bioetanol dan biodisel, menjadi secercah harapan baru bagi pemerintah untuk meningkatkan devisa, menciptakan lapangan kerja baru serta membantu mengurangi angka kemiskinan. Pemanfaatan BBN juga diharapkan mengurangi pencemaran udara serta menciptakan kemandirian energi dengan mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak bumi.

Lanjutkan membaca ‘Bahan Bakar Nabati: antara berkah dan bencana’

EGS dan masa depan energi panas bumi di Indonesia

Sumber panas bumi (sumber: NREL USA)Akhir tahun 2006 yang lalu MIT dengan sponsor dari Departemen Energi AS merilis laporan mengenai EGS (enhanced geothermal system) yang diberi judul The Future of Geothermal Energy. Laporan yang disusun oleh berbagai ahli di bidang teknologi energi, ekonomi dan lingkungan tersebut menyimpulkan bahwa dengan memanfaatkan EGS, energi panas bumi akan mampu menyumbang 10% kebutuhan listrik di AS pada tahun 2050. Jumlah ini setara dengan pembangkit listrik beban dasar dengan kapasitas 100 GWe. Bahkan laporan tersebut juga menyebutkan, dengan pengembangan teknologi lebih lanjut, jumlah energi yang secara ekonomis dapat dimanfaatkan bisa meningkat hingga dari 10 kali lipat dari yang ada saat ini. Dengan demikian, menurut laporan tersebut, EGS bisa menjadi sumber energi pilihan yang berkelanjutan hingga berabad-abad.

Lanjutkan membaca ‘EGS dan masa depan energi panas bumi di Indonesia’

Saatnya Indonesia menggarap energi tidal

Energi tidal (sumber: NASA)Energi tidal atau energi pasang surut barangkali kurang begitu dikenal dibandingkan dengan energi samudera yang lain seperti energi ombak (wave energy). Jika dibandingkan dengan energi angin dan surya, energi tidal memiliki sejumlah keunggulan antara lain: memiliki aliran energi yang lebih pasti/mudah diprediksi, lebih hemat ruang dan tidak membutuhkan teknologi konversi yang rumit. Kelemahan energi ini diantaranya adalah membutuhkan alat konversi yang handal yang mampu bertahan dengan kondisi lingkungan laut yang keras yang disebabkan antara lain oleh tingginya tingkat korosi dan kuatnya arus laut.
Lanjutkan membaca ‘Saatnya Indonesia menggarap energi tidal’