Interkoneksi Sumatera-Jawa, investasi strategis yang selalu tertunda

Krisis listrik di Jawa-Bali hingga kini belum kunjung usai. Solusi klasik terhadap masalah ini adalah dengan membangun pembangkit-pembangkit listrik baru. Padahal disamping itu, sesungguhnya pembangunan interkoneksi Sumatera-Jawa juga merupakan sebuah solusi yang strategis. Sayangnya solusi ini cenderung tidak menjadi prioritas. Alasan utamanya apalagi kalau bukan karena mahalnya biaya investasi.

Interkoneksi Sumatara-Jawa sesungguhnya bukan gagasan baru. Sekedar menengok ke belakang, rencana pembangunan interkoneksi Sumatera-Jawa telah digagas sejak era Orde Baru. Saat itu jaringan interkoneksi Sumatara-Jawa direncakan akan terwujud pada Repelita VII (1999-2004). Rencana pembangunan jaringan interkoneksi tersebut pupus seiring dengan datangnya krisis ekonomi pada tahun 1997 yang diikuti dengan lengsernya rejim yang berkuasa waktu itu.

Namun semenjak krisis kelistrikan mendera Indonesia akhir-akhir ini, interkoneksi Sumatara-Jawa kembali dilirik sebagai sebuah alternatif. Akan tetapi tetap saja terkesan tidak menjadi prioritas utama. Pada awal 2005 pemerintah, melalui Menteri Sumber Daya Energi dan Mineral, Purnomo Yusgiantoro, menargetkan interkoneksi Sumatera-Jawa akan selesai dibangun pada tahun 2007 (Kompas, 28/02/2005). Belakangan diberitakan bahwa rencana tersebut rupanya tertunda lagi dan diperkirakan baru akan terwujud pada tahun 2010 (Ekonomi neraca, 03/05/2006).

Keutungan strategis

Ada banyak keutungan strategis dengan kehadiran interkoneksi Sumatera-Jawa tersebut, antara lain:

1. Mengamankan pasokan listrik
Pasokan listrik di Jawa-Bali saat ini mengalami defisit daya yang cukup besar. Kombinasi antara keterbatasan daya listrik dan buruknya keandalan pembangkit-pembangkit listrik di Jawa-Bali memaksa PLN untuk melakukan pemadaman bergilir di sejumlah wilayah. Alhasil, selama tahun lalu kejadian pemadaman listrik ini telah dilakukan lebih dari tiga kali. Kehadiran interkoneksi Sumatera-Jawa tentunya diharapkan akan membantu mengatasi permasalahan ini.

2. Meningkatkan efisiensi pembangkitan listrik
Pembangunan pembangkit dengan memanfaatkan pembangkit mulut tambang akan meningkatkan efisiensi pembangkitan. Ini karena batubara yang digunakan sebagai bahan bakar tidak membutuhkan transportasi yang panjang menuju lokasi pembangkitan. Masalah yang berhubungan dengan terhambatnya pasokan batubara ke pembangkit-pembangkit di Jawa juga bisa diminimalkan. Pembangkit mulut tambang juga memungkinkan pemanfaatan batubara kulitas rendah. Jenis batubara ini tidak ekonomis untuk diekspor atau ditransportasikan ke pembangkit-pembangkit listrik di Jawa oleh karenanya pembangkit harus dibangun di lokasi yang dekat dengan lokasi tambang.

3. Meningkatkan keandalan sistem listrik
Kejadian mati listrik (black out) pada 18 Agustus 2005 membuktikan betapa rentannya sistem kelistrikan Jawa-Bali. Padahal untuk waktu-waktu yang akan datang keandalan sistem kelistrikan menjadi prasyarat yang semakin vital dalam menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi. Interkoneksi Sumatera-Jawa akan menghubungkan secara langsung pembangkit di Sumatera dengan pusat beban Jawa-Bali yang terkonsentrasi di Jawa bagian barat. Interkoneksi tersebut tentu diharapakan akan meningkatkan keandalan sistem yang ada saat ini.

4. Memacu dan meratakan pertumbuhan ekonomi
Interkoneksi Sumetara-Jawa akan memacu pembangunan di Sumatera khususnya di Sumatera Selatan dan sekitarnya dengan meningkatnya pendapatan daerah melalui penjualan listrik. Disamping itu ekses daya dari pembangkit yang ada bisa dimanfaatkan untuk mempercepat pertumbuhan listrik di daerah tersebut. Seiring dengan tersedianya infrastruktur listrik yang memadai diharapkan Sumatera akan menjadi lebih atraktif untuk aktifitas perekonomian.

Teknologi dan biaya

Ada dua alternatif teknologi untuk mentransmisikan daya listrik dalam jumlah besar (bulk power), yaitu HVAC (High Voltage Alternating Current) dan HVDC (High Voltage Direct Current). Teknologi HVAC saat ini digunakan pada sistem transmisi Jawa-Bali, dimana hampir seluruhnya berupa saluran udara tegangan tinggi atau ekstra tinggi. Secara umum HVAC masih merupakan alternatif yang murah dan fleksibel untuk transmisi daya listrik. Kelemahannya, sistem HVAC menyerap daya reaktif yang besarnya berbanding lurus dengan panjang saluran transmisi. Hal ini mengakibatkan rugi-rugi transmisi yang cukup besar. Dengan demikian HVAC memiliki keterbatasan untuk menyalurkan daya dengan jarak yang jauh. Bahkan pada saluran transmisi kabel bawah tanah atau bawah laut, kemampuan kabel HVAC dalam menyalurkan daya sangat terbatas, hal ini disebabkan oleh kapasitansi yang tinggi antara konduktor dengan tanah atau air laut.

Berbeda dengan HVAC yang relatif murah, HVDC terhitung mahal. Penyebab utama tingginya biaya investasi HVDC adalah tingginya harga konverter. Namun di sisi lain, HVDC memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan HVAC. Pertama, HVDC memiliki rugi-rugi daya yang lebih kecil karena tidak mengkonsumsi daya reaktif. Rendahnya rugi-rugi tersebut memungkinkan transmisi daya yang lebih besar dan jarak yang lebih jauh. HVDC juga memerlukan lebih sedikit konduktor serta tidak memakan area yang luas untuk perlintasan saluran transmisi. Disamping itu, HVDC mampu meningkatkan stabilitas sistem daya karena teknologi ini tidak memerlukan operasi sinkron antara kedua sistem yang dihubungkannya. Teknologi HVDC saat ini memungkinakan transfer daya listrik hingga 3600 MW untuk setiap unit dengan panjang transmisi mencapai lebih dari 1400 km.


Jalur interkoneksi Sumatera-Jawa (Sumber: Sudarmadi, 2006)

Interkoneksi Sumatera-Jawa diperkirakan akan menghubungkan Musi Rawas dan Muara Enim yang nantinya akan menjadi sebuah pusat pembangkitan listrik mulut tambang dan wilayah sekitar Jakarta sebagai pusat beban. Panjang saluran transmisi diperkirakan sekitar 700 km. Dimana 40 km dari panjang tersebut merupakan kabel bawah laut yang melintasi Selat Sunda dengan menghubungkan Kalianda dengan Suralaya. Daya yang ditransmisikan diperkirakan lebih dari 2000 MW. Dengan spesifikasi tersebut maka pilihan teknologi yang dianggap paling tepat adalah dengan menggunakan sistem transmisi HVDC.

Sebuah studi memperkirakan pembangunan interkoneksi Sumatra-Jawa menggunakan HVDC dengan kapasitas daya 2400 MW akan memakan biaya tak kurang dari 900 juta USD atau sekitar 8 trilyun rupiah [1]. Sebagai pembanding, perlu diketahui bahwa dengan biaya yang sama pada akhir tahun 2006 Cina bekerjasama dengan ABB mampu membangun transmisi HVDC dengan kapasitas 3000 MW sepanjang 1040 km. Logikanya, dengan kapasitas yang lebih kecil dan saluran transmisi yang lebih pendek maka biaya interkoneksi Sumatera-Jawa seharusnya lebih murah. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan karena studi tersebut menggunakan asumsi harga tahun 1997, sementara harga konverter HVDC selama beberapa tahun terakhir telah mengalami penurunan yang signifikan. Secara teknis pembangunan interkoneksi Sumatera-Jawa diperkirakan akan memakan waktu kurang lebih 2.5 hingga 3 tahun, dengan asumsi tidak ada kendala dalam pembebasan lahan.

Memang pembangunan interkoneksi Sumatera-Jawa membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun dengan pertimbangan besarnya manfaat yang diperoleh, maka sesungguhnya biaya sebesar itu merupakan investasi berharga bagi pembangunan kelistrikan Indonesia. Tentu dengan catatan bahwa tidak akan terjadi mark-up dalam realisasinya.

Pembangunan interkoneksi Sumatra-Jawa juga harus dipahami sebagai sarana pemerataan pembangunan dan bukan sekedar sebagai bentuk eksploitasi sumber daya alam dari dari satu daerah untuk kepentingan daerah lain. Pemanfaatan batubara kalori rendah dengan pembangkit mulut tambang juga bukan berarti bahwa batubara kalori tinggi bebas dijadikan komoditas ekspor, mengingat kebutuhan listrik dalam negeri masih akan tumbuh dengan pesat dan batubara adalah menjadi salah satu alternatif utama.

[1] D. Sudarmadi, dkk. DC Interconnection between Java and Sumatera, in Indonesia. Prosiding Power Systems Conference and Exposition, 2006.


Link terkait:
Kondisi sistem tenaga listrik Jawa-Bali

1 Tanggapan ke “Interkoneksi Sumatera-Jawa, investasi strategis yang selalu tertunda”


  1. 1 Agus Susanto Desember 10, 2007 pukul 7:16 am

    sebaiknya pembangunan interkoneksi jawa sumatra segera dilaksanakan sehingga segera dapat dinikmati oleh masyarakat, dan tdak menjadi sebuah proyek yang tertunda-tunda. saya yakin pembangunan interkoneksi jawa bali manfaatnya sangat besar, walaupun memakan biaya yang sangat besar. kita harus memaknai biaya tersebut sebagi investasi, yang tentunya modal tersebut akan kembali.


Tinggalkan Balasan